Rabu, 19 Agustus 2009

Hidupkan Ramadhanmu, Ramadhankan Hidupmu…

Bulan yang mulia kembali mendatangi kita, kita pun Alhamdulillah diberikan nikmat oleh Allah untuk kembali kepada serangkaian aktivitas tarbiyah terbesar dalam bulan ini. Menjelang datangnya bulan yang penuh barokah, ampunan, serta rahmat Allah ini, marilah kita persiapkan yang terbaik dari diri kita untuk menjadi orang yang paling dekat dengan Allah ‘Azza Wa Jalla….
Saudaraku, untuk menyambut Ramadhan ini, ada beberapa amal yaumiyah yang sungguh akan banyak meningkatkan kesiapan kita dalam menghadapi bulan Ramadhan ini, antara lain :

1. Sholat wajib berjamaah 5 waktu
Tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa sholat wajib inilah dengan kedisiplinan waktu kita untuk menyambutnya, adalah tarbiyah yang paling efektif sekaligus memperkuat pondasi agama kita. Dengan sholat wajib berjamaah , Allah akan ridho kepada kita, memberikan kekuatan lahir batin, ketenangan, kemudahan, dan yang paling penting, Ridho dan rahmat Allah-lah yang akan mengantarkan kita pada Kesuksesan yang hakiki (dunia dan akhirat).



2. Sholat Sunnah
Sungguh , sholat sunnah adalah tambahan besar bagi kita untuk melengkapi kekurangan kita pada sholat wajib kita, entah itu dari faktor kekhusyu’an atau sebagai pelengkap-pelengkap kekurangan kita yang lain. Dengan sholat Tahajjud, malam-malam yang kita miliki mempunyai makna besar untuk mendatangkan kekuatan / izzah pada keesokan harinya dengan Rahmat Allah. Waktu yang tepat untuk minta ampun kepada Allah atas segala noda dosa kita, curhat sama Allah, minta yang terbaik dari Allah, berkeluh kesah kepada Allah, intinya adalah kita ingin sedekat mungkin dengan Allah. Begitu pula sholat Dhuha, insya Allah akan menjadi pembuka Rizki dari Allah. Begitu pula dengan sholat Sunnah Rawatib, menjadi pelengkap dan investasi kita untuk akhirat nanti, nggak tanggung-tanggung, Allah bangunkan Rumah di surga bagi siapa-siapa yang mengerjakan Sholat sunnah (Rawatib) sebanyak 12 rakaat pada satu hari. …



3. Tilawah Al-Qur’an
Hidup sehari tanpa Al-Qur’an kan menjadi kan hidup kita hampa dan hambar, itulah Al-Qur’an, sebagai obat, petunjuk, rahmat, saksi yang bisa memberikan syafaat dengan izin Allah di yaumil hisab nanti, so… kalo misalnya kita bisa , coba deh 1 hari 1 juz, tiap ba’da sholat 2 hizb (itu yang ada tandanya di Al-Qur’an), insya Allah di akhir Ramadhan kita, pada waktu-waktu yang sangat berharga , kita bisa mengkhatamkan Al-Qur’an, inget Lho..salah satu doa yang paling diijabahi adalah doa ketika setelah mengkhatamkan Al-Qur’an, apalagi ini bulan Ramadhan, dimana kebaikan dibalas berlipat ganda….so tunggu apa lagi….



4. Sedekah
Bulan Ramadhan adalah bulan berbagi…so, kalo pembaca takut kaya, maka bersedekahlah, maka insya Allah akan makin kaya. Kaya di mata Allah jauh lebih sip dibanding kaya di hadapan manusia. Walaupun cuman 500 perak, tapi kalo tiap hari, kita brusaha beristiqomah, insya Allah, investasi dan panen BESAR siap menanti kita. Inga..inga… Allah itu suka hamba-Nya yang beramal walaupun sederhana tapi kontinyu (baca: istiqomah)…coba deh…



5. Membaca buku agama
Iqro’ ..bacalah…mumpung di bulan Ramadhan, kesempatan untuk kita mengupgrade Iman dan islam kita dihadapan Allah. So, Romadhon kan menjadi madrasah kehidupan kita untuk menjadi manusia pembelajar sejati, yang selalu berusaha untuk menjadi lebih baik. Lulus Ramadhan , insya Allah , asal kita amalkan ilmu yang udah kita baca, kita dengar, kita amalkan, akan menjadi TRIGGER terbesar untuk menata kembali hidup kita kearah yang lebih baik.



6. Al-Ma’tsuraat
Al-Ma’tsuraat berisi doa dan dzikir2 yang kalo kita pahami makna di dalamnya, maka terdapat kandungan makna Syukur, sabar, tawadhu’, dan dekat kepada Allah dengan sedemikian dekatnya. Dengan ingat Allah, Allah ingat kita (AL-Baqoroh:152), kalo Allah udah ingat (cinta kepada) kita karena kita berusaha untuk selalu mengingat Allah, maka ketenanganakan datang, kegelisahan kan pudar, hidup kan nyaman, manfaat, urusan lancar, kuliah dimudahkan, kerja lancar, harta barakah, dilindungi dari kejahatan makhluknya , dan karuna ALlah yang lainnya yang tidak bisa kita hitung , walaupun dengan komputer secanggih apapun.



7. I’tikaf
I’tikaf sebagai saran kita untuk merenung, muhasabah, evaluasi diri, serta pendekatan kepada ALLAH, apalagi pada 10 hari terakhir, sebuah pekan dengan keutamaan yang besar…ampunan ALlah, RAhmat Allah, pembebasan dari api neraka. SO…persiapkan diri kita untuk menyambut Ramadhan ini dengan segala daya dan kekuatan untuk KEMBALI KEPADA ALLAH….
dan masih banyak lagi amalan-amalan lain….yang bisa kita amalkan, dan kita ajarkan
Intinya, HIDUPKAN RAMADHANMU, RAMADHANKAN HIDUPMU , kanjadikanhidupmu sebagai hidup terindah yangpernah kau miliki.

Minggu, 02 Agustus 2009

PROSESI SHALAT DALAM ISRA' MI'RAJ

Meskipun, perintah shalat tidak diinformasikan secara eksplisit dalam firman-firman Allah yang terkait dengan peristiwa tersebut, tetapi perjalanan Isra' Mi'raj itu sendiri memberikan pelajaran tentang cara mencapai shalat yang khusyu'. Dengan kata lain, jika anda ingin shalat yang khusyu' tirulah proses yang terjadi pada Rasulullah saw saat mengalami Isra' Mi'raj. Apa sajakah yang terjadi pada Rasulullah saw yang terkait dengan kekhusyu'an shalat? Di antaranya adalah beberapa hal berikut ini. 
Sebagaimana kita ketahui bahwa menjelang peristiwa yang sangat fenomenal itu Rasulullah saw mengalami tahun yang sangat memprihatinkan. Dalam tahun-tahun itu Rasulullah saw mendapatkan tekanan batin yang sangat berat. Yang pertama, umat Islam pada waktu itu mendapatkan tekanan dari kaum Quraisy secara ekonomi. Perdagangan dipersulit, hubungan dan komunikasi dengan pihak-pihak lain sangat dibatasi, bahkan untuk mencari kebutuhan sehari-hari pun mereka sangat kesulitan. Dalam kondisi seperti itu, Rasulullah saw tentu sangatlah prihatin. Itulah masa-masa terberat dalam perjuangan beliau menegakkan ajaran Islam yang dibawanya. Yang kedua, beliau ditinggal wafat istri yang sangat dicintainya. Siti Khadijah adalah istri yang setia mendampingi suami dalam kondisi suka maupun duka. Bahkan sejak beliau belum menjadi Rasul sampai beliau diberi tugas untuk menyampaikan risalah dan mengalami tekanan-tekanan yang semakin besar dari kaumnya. Siti Khadijah selalu memberikan dukungan, baik yang bersifat material maupun moral. Dan yang ketiga, keprihatinan Nabi semakin besar tatkala Allah juga memanggil wafat paman beliau, Abu Thalib. 
Dialah paman Nabi yang selalu membela keselamatan Nabi terhadap tekanan dan serangan serangan kaum Ouraisy Beliau adalah benteng yang selalu siap mengamankan Nabi dalam situasi apa pun. Maka, kaum Quraisy merasa segan karenanya. Nah, orang yang demikian dekat dengan beliau itu pun meninggal. 

Bahkan yang sangat memprihatinkan Rasulullah saw, Abu Thalib meninggal tidak dalam keadaan muslim. Beliau meninggal dalam keadaan 'diperebutkan' antara kaum Quraisy yang menjadi teman-teman Abu Thalib dalam kemusyrikan dengan Nabi yang ingin mengislamkan beliau. Maka, ketika pamannya belum sempat membaca syahadat sampai di akhir sakaratul mautnya, dan malaikat lzrail lebih dulu mencabut jiwanya, menangislah Nabi dalam kesedihan. Beliau sangat terpukul, karena orang yang sangat dekat dan menjadi pembela beliau temyata tidak mati dalam keadaan muslim. 

Sungguh bertumpuk tumpuk kesedihan Rasulullah saw. Tekanan kehidupan ekonomi sedemikian beratnya, ditambah kematian istri dan pamannya yang sangat dicintainya, membuat Nabi sering termenung mengevaluasi perjalanan hidup dan perjuangannya menegakkan agama Allah. Pada saat seperti itulah Allah mengutus malaikat Jibril untuk menemui Rasulullah saw dan mengajaknya melakukan perjalanan Isra' Mi'raj yang sangat bersejarah itu. Nah, tiga hal itulah yang ingin saya sampaikan kepada pembaca, bahwa di dalamnya terkandung pelajaran yang sangat berharga. Secara menyeluruh ketiga peristiwa itu menggambarkan dicabutNya 3 Ta dari kehidupan Rasulullah saw, menjelang keberangakatan lsra' Mi'raj. Yaitu, harTa, tahTa dan waniTa. Tekanan ekonomi yang dilakukan oleh kaum Quraisy terhadap umat Islam mengambarkan tentang hilangnya pegangan terhadap harta benda Duniawi. Meninggalnya paman Nabi, Abu Thalib menggambarkan hilangnya perlindungan dan rasa aman secara manusiawi. Dalam hal ini adalah dicabutnya kekuasaan yang melingkari Rasulullah saw. Sedangkan meninggalnya Siti Khadijah sang istri tercinta, adalah sebuah gambaran tentang dicabutnya peranan seorang wanita dalam kehidupan beliau. 

Kenapakah Allah mencabut ketiga hal itu dari Rasulullah saw? Ini berkait dengan kekhusyukan yang akan diajarkan Allah kepada Rasulullah saw dalam perjalanan beliau, menghadap Sang Maha Agung. Dengan dicabutnya ketiga hal itu, seakan- akan Allah ingin mengajarkan, jika kita ingin menghadap kepada Allah dengan khusyuk, maka singkirkanlah jauh-jauh ketiga hal itu dari benak dan kehidupan kita. Setidak- tidaknya untuk sesaat. 

Dengan kondisi seperti itu, Rasulullah saw seperti tidak memiliki apa-apa lagi dalam kehidupannya kecuali Allah Sang Maha Pengasih. Tidak ada lagi kebergantungan kepada harta benda. Tidak ada lagi rasa aman yang digantungkan kepada manusia. Dan tidak ada lagi rasa kecintaan yang bersifat duniawi, meskipun kepada orang-orang yang sangat dicintai. 

Yang ada di hadapan beliau hanya Allah Azza Wajalla. DIAlah yang memiliki segala kesenangan harta Duniawi. DIA juga yang memiliki Kekuasaan dan Keperkasaan, serta bisa memberikan rasa aman. Dan DlA juga yang memberikan rasa kedamaian dalam Kasih Sayang yang sejati dan abadi. Maka cukuplah Allah sebagai Tuhan yang memberikan segala- galanya. Sungguh, Rasulullah saw mencapai tingkatan kepasrahan yang luar biasa pada waktu itu. 

Nah, dalam kondisi demikian, Rasulullah saw diajak Jibril untuk menghadap kepada Allah, Tuhan Yang Maha Agung. Tentu kita bisa membayangkan betapa khusyuknya beliau saat itu. Inilah pelajaran yang bisa kita ambil dari persiapan Rasulullah saw ketika akan menghadap kepada Allah. Kondisi kejiwaan seperti inilah yang mesti kita tiru ketika mau menjalankan shalat. Jika mau khusyuk, kita harus bisa menghilangkan 3 Ta dari benak kita menjelang ibadah shalat kita. Buanglah jauh-jauh beban beban pikiran yang berkaitan dengan pekerjaan dan mencari nafkah. Toh, itu hanya dihilangkan untuk sementara waktu. Paling- paling hanya untuk sekitar 15 menit saja. Janganlah shalat kita yang hanya beberapa menit itu masih juga diganggu oleh pikiran-pikiran yang berkait dengan pekerjaan, sehingga tidak khusyuk. 

Yang kedua, jauhkanlah juga pikiran-pikiran yang berkait dengan kekuasaan dan jabatan. Apa yang kita peroleh dalam jabatan itu semata mata hanya milik Allah. Jabatan itu suatu ketika pasti akan lepas dari genggaman kita. Sehingga sungguh tidak pantas bagi kita untuk membangga-banggakan jabatan itu. Apalagi menyombongkannya di hadapan Allah. Kesombongan itulah gangguan utama dalam kekhusyukan shalat kita. Kesombongan ini menyebabkan kita 'besar' di hadapan Allah. Padahal pada hakikatnya kita 'sangatlah kecil' di hadapanNya. 

Yang ketiga, buanglah jauh-jauh rasa kecintaan kepada Dunia. Gantilah dengan memupuk rasa kecintaan kita kepada Allah saja. Kecintaan yang diwujudkan dengan rasa keikhlasan dan ketaatan hanya kepadaNya. Itulah yang disebut sebagai berserah diri hanya kepada Allah. Dengan bahasa yang berbeda, seluruh niatan ibadah kita adalah lillaahi Ta'ala. Maka, ketika kita memulai shalat dengan sikap hati yang demikian, Insya Allah pintu kekhusyukan sedang menanti di depan kita. 

Kekhusyukan adalah suatu kondisi kejiwaan dimana kita hanya ingat kepada Allah saja. Karena shalat kita itu memang memiliki 2 tujuan utama, yaitu mengingat Allah dan berdo'a, memohon pertolongan atas segala permasalahan yang sedang kita hadapi. Hal tersebut difirmankan Allah 
dalam ayat berikut ini. QS. Thahaa (20):14 "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. " QS. Al Baqarah (2): 45 "Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu" 

Demikian pulalah kondisi kejiwaan Rasulullah saw saat melakukan Isra' Mi'raj. Seluruh jiwa raganya hanya tertumpah kepada Eksistensi dan Kebesaran Allah semata. Beliau berdzikir kepadaNya dan memohon pertolongan atas segala permasalahan dalam perjuangan yang sedang beliau hadapi. Tak ada lagi dzat yang bisa menolong beliau dari berbagai kesulitan, dan mampu menentramkan hati beliau, kecuali Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana

Matematika Gaji dan Logika Sedekah

Dalam satu kesempatan tak terduga, saya bertemu pria ini. Orang-orang biasa memanggilnya Mas Ajy. Saya tertarik dengan falsafah hidupnya, yang menurut saya, sudah agak jarang di zaman ini. Dari sinilah perbincangan kami mengalir lancar. Kami bertemu dalam satu forum pelatihan profesi keguruan yang diprogram sebuah LSM bekerja sama dengan salah satu departemen di dalam negeri. Tapi, saya justru mendapat banyak pelajaran bernilai bukan dari pelatihan itu. Melainkan dari pria ini. Saya menduga ia berasal dari kelas sosial terpandang dan mapan. Karena penampilannya rapih, menarik dan wajah yang tampan. Namun tidak seperti yang saya duga, Mas Ajy berasal dari keluarga yang pas-pasan. Jauh dari mapan. Sungguh kontras kenyataan hidup yang dialaminya dengan sikap hidup yang dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan saya pahami dari beberapa kali perbincangan yang kami bangun. Satu kali kami bicara tentang penghasilan sebagai guru. Bertukar informasi dan memperbandingkan nasib kami satu 
dengan yang lain, satu sekolah dengan sekolah lainnya. Kami bercerita tentang dapur kami masing-masing. Hampir tidak ada perbedaan mencolok. Kami sama-sama "guru" yang "katanya" pahlawan tanpa tanda jasa. Yang membedakan sangat mencolok antara saya dan Mas Ajy adalah sikap hidupnya yang amat berbudi. Darinya saya tahu hakikat nilai di balik materi. 

Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak logis untuk membiayai seorang isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga masih memiliki tanggungan seorang adik yang harus dihantarkannya hingga selesai SMA. Sering pula Mas Ajy menggenapi belanja kedua ibu bapaknya yang tak lagi berpenghasilan. Menurutnya, hitungan matematika gajinya barulah bisa mencukupi untuk hidup sederhana apabila gajinya dikalikan 3 kali dari jumlah yang diterimanya. "Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan angka- angka. Ada dimensi non matematis dan di luar angka-angka logis." "Maksud Mas Ajy gimana, aku nggak ngerti?" "Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan menjadi orang pelit. Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapapun sebenarnya nilai gaji setiap orang, dia tidak akan pernah merasa cukup. Lalu dia akan berkata, bagaimana mau sedekah, untuk kita saja kurang." "Kenyataannya memang begitu kan Mas?", kata saya mengiayakan. "Mana mungkin dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup tenang, bisa sedekah. Bisa berbagi." Saya mencoba menegaskan pernyataan awalnya. 

"Ya, karena kita masih menggunakan pola pikir matematis. Cobalah keluar dari medium itu. Oke, sakarang jawab pertanyaan saya. Kita punya uang sepuluh ribu. Makan bakso enam ribu. Es campur tiga ribu. Yang seribu kita sedekahkan, berapa sisa uang kita?" "Tidak ada. Habis." jawab saya spontan. "Tapi saya jawab masih ada. Kita masih memiliki sisa seribu rupiah. Dan seribu rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang tidak terduga." Saya mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya agak tercenung pada jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana mungkin masih tersisa uang seribu rupiah? Dari mana sisanya? "Mas, bagaimana bisa. Uang yang terakhir seribu rupiah itu, kan sudah disedekahkan", saya tak sabar untuk mendapat  jawabannya. "Ya memang habis, karena kita masih memakai logika matematis. Tapi cobalah tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada logika sedekah. Uang yang seribu itu dinikmati orang lain. Jangan salah, bisa jadi puluhan lontaran doa? keberkahan untuk kita keluar dari mulut orang itu atas pemberian kita. Itu baru satu orang. Bagaimana jika kita memberikannya lebih. Itu dicatat malaikat dan didengar Allah. Itu menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi penolong di akhirat. Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang abadi. Sementara nilai bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC." 

Subhanallah. Saya hanya terpaku mendapat jawaban yang dilontarkannya. Sebegitu dalam penghayatannya atas sedekah melalui contoh kecil yang hidup di tengah-tengah kita yang sering terlupakan. Sedekah memang berat. Sedekah menurutnya hanya sanggup dilakukan oleh orang 
yang telah merasa cukup, bukan orang kaya. Orang yang berlimpah harta tapi tidak mau sedekah, hakikatnya sebagai orang miskin sebab ia merasa masih kurang serta sayang untuk memberi dan berbagi. 

Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih panjang melalui pola hubungan anak dan orang tua. Dalam obrolannya, Mas Ajy seperti ingin menggarisbawahi, bahwa berapapun nilai yang kita keluarkan untuk mencukupi kebutuhan orang tua, belum bisa membayar lunas jasa- jasanya. Air susunya, dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya dan sejagat haru biru perasaanya. Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai yang dibayar untuk itu, Allah akan menggantinya berlipat-lipat. 

Terus, gimana caranya Mas, agar bisa menyeimbangkan nilai matematis dengan dimensi sedekah itu? Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tapi sebaliknya menjadikan ia kaya. Kedua, jangan terikat dengan keterbatasan gaji, tapi percayalah pada keluasan rizki. Ketiga, lihatlah ke bawah, jangan lihat ke atas. Dan yang terakhir, padukanlah nilai qona'ah, ridha dan syukur. 

Saya semakin tertegun. Dalam hati kecil, saya meraba semua garis hidup yang telah saya habiskan. Terlalu jauh jarak saya dengan Mas Ajy. Terlalu kerdil selama ini pandangan saya 
tentang materi. Ada keterbungkaman yang lama saya rasakan di dada. Seolah-oleh semua penjelasan yang dilontarkannya menutup rapat egoisme kecongkakan saya dan membukakan perlahan-lahan kesadaran batin yang telah lama diabaikan. Ya Allah saya mendapatkan satu untai mutiara melalui pertemuan ini. Saya ingin segera pulang dan mencari butir-butir mutiara lain yang masih berserak dan belum sempat saya kumpulkan. 
*** 
Sepulang berjamaah saya membuka kembali Al-Qur'an. Telah beberapa waktu saya acuhkan. Ada getaran seolah menarik saya untuk meraih dan membukanya. Spontan saya buka sekenanya. Saya terperanjat, sedetik saya ingat Mas Ajy. Allah mengingatkan saya kembali: 

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia- Nya) lagi Maha Mengetahui." (Terjemah QS. Al-Baqarah [2] 261)

Posting Again by ALFA

Jangan Tertipu dengan Kesenangan Sesaat


Alkisah, sekelompok orang sedang melakukan perjalanan di padang pasir yang luas dan panas. Di tengah perjalanan, perbekalan yang mereka miliki habis. Di perkampungan tempat mereka berhenti terdapat kebun buah-buahan. Kepada si pemilik kebun salah seorang dari mereka meminta izin agar dibolehkan memetik buah-buahan yang ada di dalamnya. Pemilik kebun bertanya, “Apakah kalian punya uang untuk membelinya?” Ia menjawab, "Tidak ada satupun dari kami yang masih memiliki uang. Uang kami telah habis untuk membeli perbekalan sebelumnya. Tolonglah kami tuan, perjalanan kami masih jauh, perbekalan kami sudah habis, kami berharap tuan mau bermurah hati.” 

Setelah melihat keadaan mereka, akhirnya pemilik kebun merasa kasihan. Ia berkata, "Baiklah, saya persilahkan kalian masuk kebun dan memetik apapun dan sebanyak apapun yang kalian inginkan, tapi dengan syarat, saya hanya beri kalian waktu 20 menit. Setelah 20 menit kalian harus keluar.” “Baiklah tuan, terima kasih atas kebaikan hati tuan,” balas mereka. Mereka yang berjumlah 20 orang itu memasuki kebun buah- buahan tersebut. Kebunnya begitu luas, indah dan bersih. Ada tempat duduk dinaungi oleh daun-daunan. Ada mata air yang mengalirkan air jernih, taman-taman indah dan penuh pesona serta segala keindahan yang menggoda pandangan mata. 

Sebagian mereka melepas lelah dengan menikmati indahnya kebun, sebagian lagi tidur untuk melepas penat dibawah pohon, sebagian lain bersegera menuju tempat buah-buahan untuk memetiknya. Mereka yang sedang memetik buah-buahan berkata kepada teman-teman mereka, “Wahai teman-teman, bukan saatnya kita bersantai, perjalanan kita masih sangat jauh, kita hanya diberi waktu 20 menit disini. Ayolah semuanya bergerak dan memetik buah-buahan sesuai yang dibutuhkannya!” 

Sebagian mereka tersadar setelah mendengarkan seruan itu lalu dengan cepat memetik buah-buahan. Sebagian lagi masih asyik dalam santai dan main-main. Waktu terus berjalan, tak terasa sudah mendekati 20 menit. Mereka yang memetik buah-buahan sudah memenuhi kantong-kantong perbekalan. Sedangkan yang masih santai dan main-main belum memetik apa-apa. Sebagian lain tersadar baru 5 menit sebelum batas waktu, sehingga mereka hanya bisa mengumpulkan sedikit bekal. 

Waktu telah sampai 20 menit. Mau tidak mau mereka harus keluar. Beruntunglah mereka yang telah mengumpulkan banyak bekal, dan merugilah mereka yang menghabiskan waktunya untuk santai dan main-main, sehingga mereka menjadi sengsara dalam perjalanan selanjutnya. Mereka kehausan dan kelaparan ditengah padang pasir yang luas dan panas, sehingga sebagian mereka pun tewas. 

Kehidupan yang kita jalani di dunia (lebih kurang) diumpamakan dengan kisah sekelompok orang yang sedang melakukan perjalanan di padang pasir seperti dalam cerita diatas. Sesungguhnya keberadaan kita di dunia hanyalah sesaat. Kehadiran kita di dunia pada hakikatnya punya tujuan yang mulia, yaitu mengenal dan mengabdi sepenuhnya pada Allah SWT. Hanya saja sangat disayangkan, banyak manusia yang lupa, lalai, terlena dan bahkan mengabaikan tujuan ini, sehingga mereka sibuk dengan dunia, lupa pada akhirat. Lupa bahwa suatu saat mereka akan keluar dan meninggalkan dunia ini. 

Kematian akan datang tiba-tiba dan memisahkan mereka dengan segala kesenangan yang ada. Yang ketika itu tidak berguna lagi harta yang banyak, anak-anak yang menawan, istri yang cantik, jabatan tinggi, popularitas, dan lain sebagainya, kecuali yang digunakan pada jalan Allah dan datang pada Allah dengan hati yang salim, amal yang berlimpah, dan iman yang tidak tercampur dengan syirik. 

Mereka yang mengetahui dan sadar akan tujuan ini, tidak akan terlena dengan kesenangan yang sesat dan kesenangan yang menipu. Mereka selalu menyibukkan diri dengan beramal untuk bekal di akhirat yang kekal. Mereka rela meninggalkan kesanangan yang sesaat agar dapat meraih kenikmatan yang abadi. Mereka bukanlah tipe orang yang pemalas, suka santai, bersenang-senang, berangan-angan, lalai, budak nafsu dan pengikut setan. 

Siang dan malam yang mereka lalui selalu diisi dengan amal kebaikan. Setiap saat waktu yang mereka miliki bernilai kebaikan dan pahala. Allah SWT, Pencipta kehidupan dunia ini telah menjelaskan dalam al-Quran tentang hakikat kehidupan dunia, "Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan 
dan bermegah-megahan diantara kamu serta berbangga- banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanya kesenangan yang menipu." (QS Al-Hadid[57] : 20) 

Dalam ayat lain Allah berfirman, "Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan disisi Allah ada tempat kembali yang baik ( sorga )." (QS Ali-Imran[3] : 14) 


Juga pada ayat lain, "Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."(QS Al-Ankabut[29] : 64) Dari Anas ra. bahwasanya Nabi SAW bersabda, "Ya Allah tidak ada kehidupan kecuali kehidupan akhirat." (HR Muttafaq `Alaih) 

Dan juga dari Almustawrid bin Syidad Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah kehidupan dunia dibanding akhirat seperti seseorang memasukkan satu jarinya ke dalam samudra yang luas, maka lihatlah apa yang tersisa (setelah dia mengangkat jarinya itu)." (HR Muslim) 

Dan sabda beliau kepada Ibnu Umar, "Hiduplah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melewati sebuah jalan. " (HR Bukhari) Sungguh sangat banyak ayat-ayat al-Quran dan hadist-hadits Rasulullah SAW yang menerangkan hakikat kehidupan dunia dan bahwasanya akhirat itulah kehidupan sebenarnya, yang disana ada kenikmatan yang kekal dan kesengsaraan yang abadi. Waktu yang kita miliki di dunia ini hanya sesaat. Maka jadikanlah ia selalu dalam ketaatan. Mari kita berbekal untuk perjalanan yang kekal abadi di akhirat kelak. Karena, dalam perjalanan setelah kehidupan dunia nanti setiap orang akan bertanggung jawab untuk keselamatan dirinya. Bagi yang banyak membawa bekal amal soleh ia akan selamat, adapun mereka yang tidak ada bekal maka ia akan sengsara.
Wallahu al-musta`an wa a`lam 
Semoga bisa menjadi renungan kita bersama
oleh M. Arif As-Salman